ceritaku
Friday, April 14th, 2006ceritaku ini tentang seorang psk (pekerja seks komersial) yg baru2 ini kutemui di sela2 pelatihan dari dinas sosial DIY.
Saat kutanya kenapa dia mau jadi PSK,gini jawabnya : ya nggak to mbak. perempuan mana to yg mau jadi pelacur koyo aku iki. ra ono sing gelem mbak. aku tu dulu perempuan baek2. punya suami, anak 1. tapi bojoku iku mbak, kawin meneh. dia minta cerai dari aku yo nggak takkasih to, kasian anakku. sejak itu suamiku itu hobi bgt mukulin aku, dikit2 mukul, nggak mau kerja, mabok, anakku yo melu diantemi (dipukuli) mbak.yo aku kan nggak terima anakku digituin, akhire aku mau cerai. tapi abis cerai mantan suamiku itu minggat nggak tau kemana tapi bawa barang2ku, ludes kabeh nggak sisa. anakku yo nggak pernah ditengok, apalagi dinafkahi. aku judeg (bingung) mbak. akhire aku ke jogja nyari kerja. anakku kutitipin simbokku di desa. tapi di jogja pun aku nggak dapet kerja yg layak, aku jadi buruh pabrik, tur pabrike suwe2 bangkrut. aku mumet tenan. akhire ada temenku sing nawari gawean iki mbak, aku diajakin ke parangtritis, jadi PSK. yo wislah rapopo, daripada anakku ra mangan. "
sampai di bagian ini, matanya berkaca-kaca. saat kupegang tangannya, dia mulai menangis.katanya "mbak, kok kowe ki gelem to cedhak2 aku, aku ki nista, pelacur, nanti kamu ketularan kotornya aku. tapi aku yo bersyukur kalo masih ada orang kayak mbak ini, mau dengerin ceritaku bukan untuk kepentingan skripsi atau dimasukin koran. kita sesama perempuan pasti bisa ngerasain gmn sakitnya. ini semua kulakukan buat anakku di desa sana. dia butuh makan, butuh bayar sekolah. aku nggak mau anakku bodo kayak aku.pokoknya dia harus sekolah tinggi, biar terhormat hidupnya. apapun mbak, apapun akan kulakukan untuk anakku."
sampai bagian ini giliran aku yg tercekat. pengen banget bantuin si mbak ini, tapi so far yg bisa kulakukan hanyalah mendengarkan dan memberikan empati. andai aku punya banyak uang, andai aku punya akses yg besar ke birokrasi, andai aku nggak punya kesibukan yg bejibun untuk kepentinganku sendiri, andai dan andai…
tapi semoga lewat genggaman tangan inipun aku masih bisa memberikan sesuatu. bukan hanya untuk perempuan2 yg tejebak di dunia prostitusi, tapi juga untuk banyak perempuan lain. siapa sih yg mau bantu perempuan kalo bukan perempuan ?